Self-Directed Learning
What is Self-Directed Learning?
Self-directed learning is not a new concept.
In fact, much has been written about it. Unfortunately, however, it is a notion
that has a variety of interpretations and applications in the corporate training
arena. Typical, narrow interpretations involve simply giving learners some sort
of choice in their learning. For example, allowing learners to select one or
more courses from a curriculum, or, in cases of structured on-the-job training,
allowing employees to choose what pre-designed modules (e.g., a video tape,
workbook, special reading, etc.) to complete. In terms of e-learning, the fact
that learners can determine which modules or scenarios to review is also
frequently touted as self-directed learning.The fact that the learner has a
choice and makes a decision to select this or that module does not constitute
true self-directed learning.
This interpretation is too limited. Self-directed learning is much more. Using
the analogy of taking a trip, the narrow interpretation of SDL is equivalent to
selecting where to go, i.e., the destination. The essence of the notion of
self-directed learning advocated here, however, is broader, more fundamental.
It is about the learner deciding not just where to take a trip but how they
will go (both the means of transportation as well as route), when they will
leave, how they will get there and how long they will stay.
Essentially, the notion of SDL advocated here reflects Malcolm Knowles
definition of SDL:
“In its broadest meaning, ’self-directed
learning’ describes a process by which individuals take the initiative, with
our without the assistance of others, in diagnosing their learning needs,
formulating learning goals, identify human and material resources for learning,
choosing and implement appropriate learning strategies, and evaluating learning
outcomes.” (Knowles, 1975, p. 18)
Of primary concern in this definition of SDL is the fact the learner takes 1)
the initiative to pursue a learning experience, and 2) the responsibility for
completing their learning. Once the initiative is taken, the learner assumes
complete responsibility and accountability for defining the learning experience
and following it through to its conclusion. This does not preclude input from
others, but the final decision is the learner’s. Self-direction does not mean
the learner learns alone or in isolation. While, that may be the case in any
given learning situation, the critical factor here, again, is the fact the
learner is driving the total learning experience, beginning with recognizing a
need to learn.
Direct Method
Pengertian
Direct Method ( Metode Langsung) atau pemahaman dari Direct Method
yaitu berasal dari kata Direct yang artinya langsung. Direct method
atau model langsung yaitu suatu cara mengajikan materi pelajaran bahasa asing
di mana guru langsung menggunakan bahasa asing tersebut sebagai bahasa
pengantar, dan tanpa menggunakan bahasa anak didik sedikit pun dalam mengajar.
Jika ada suatu kata-kata yang sulit dimengerti oleh anak didik, maka guru dapat
mengartikan dengan menggunakan alat peraga, mendemontstrasikan, menggambarkan
dan lain-lain.
Metode ini berpijak dari pemahaman bahwa pengajaran bahasa asing tidak sama
halnya dengan mengajar ilmu pasti alam. Jika mengajar ilmu pasti, siswa
dituntut agar dapat menghafal rumus-rumus tertentu, berpikir, dan mengingat,
maka dalam pengajaran bahasa, siswa/anak didik dilatih praktek langsunng
mengucapkan kata-kata atau kalimat-kalimat tertentu. Sekalipun kata-kata atau
kalimat tersebut mula-mula masih asing dan tidak dipahami anak didik, namun
sedikit demi sedikit kata-kata dan kalimat itu akan dapat diucapkan dan dapat
pula mengartikannya.
Demikian halnya kalau kita perhatikan seorang ibu mengajarkan basah kepada
anak-anaknya langsung dengan mengajarinya, menuntunnya mengucapkan kata per
kata, kalimat per kalimat dan anaknya menurutinya meskipun masih terihat lucu.
Misalnya ibunya mengajar “Ayah” maka anak tersebut menyebut “Aah” dan
seterusnya. Namun lama kelamaan si anak mengenali kata-kata itu dan akhirnya ia
mengerti pula maksudnya
Pada prinsipnya metode langsung (direct
method) ini sangat utama dalam mengajar bahasa asing, karena melalui
metode ini siswa dapat langsung melatih kemahiran lidah tanpa menggunakan
bahasa ibu (bahasa lingkungannya). Meskipun pada mulanya terlihat sulit anak didik
untuk menuirukannya, tapi adalah menarik bagi anak didik.
Ciri-ciri metode ini adalah :
- Materi pelajaran pertama-tama diberikan kata demi kata, kemudian
struktur kalimat
- Gramatika diajarkan hanya bersifat sambil lalu, dan siswa tidak
dituntut menghafal rumus-rumus gramatika, tapi yang utam adalah siswa
mampu mengucapkan bahasa secara baik
- Dalam proses pengajaran senantiasa menggunakan alat bantu (alat
peraga) baik berupa alat peraga langsung, tidak langsung (bnda tiruan)
maupun peragaan melalui simbol-simbol atau gerakan-gerakan tertentu
- Setelah masuk kelas, siswa atau anak didik benar-benar
dikondisikan untuk menerima dan bercakap-cakap dalam bahasa asing, dan
dilarang menggunakan bahasa lain.
Kebaikan metode langsung (Direct)
Metode langsung (direct) dilihat dari segi efektivitasnya memiliki keunggulan
antara lain :
- Siswa termotivasi untuk dapat menyebutkan dan mengerti kata-kata
kalimat dalam bahasa asing yang diajarkan oleh gurunya, apalagi guru
menggunakan alat peraga dan macam-macam media yang menyenangkan
- Karena metode ini biasanya guru mula-mula mengajarkan kata-kata
dan kalimat-kalimat sederhana yang dapat dimengerti dan diketahui oleh
siswa dalam bahasa sehari-hari misalnya (pena, pensil, bangku, meja, dan
lain-lain), maka siswa dapat dengan mudah menangkap simbol-simbol bahasa
asing yang diajarkan oleh gurunya.
- Metode ini relatif banyak menggunakan berbagai macam alat peraga :
apakah video, film, radio kaset, tape recorder, dan berbagaimedia/alat
peraga yang dibuat sendiri, maka metode ini menarik minat siswa, karena
sudah merasa senang/tertarik, maka pelajaran terasa tidak sulit
- Siswa memperoleh pengalaman langsung danpraktis, sekalipun
mula-mula kalimat yang diucapkan itu belum dimengerti dan dipahami
sepenuhnya
- Alat ucap / lidah siswa/anak didik menjadi terlatih dan jika
menerima ucapan-ucapan yang semula sering terdengar dan terucapkan
Kekurangan-kekurangan metode langsung (Direct)
- Pengajaran dapat menjadi pasif, jika guru tidakdapat memotivasi
siswa, bahkan mungkin sekali siswa merasa jenuh dan merasa dfongkol karena
kata-kata dan kalimat yang dituturkan gurunya itu tidak pernah dapat
dimengerti, karena memang guru hanya menggunakan bahasa asing tanpa
diterjemahkan ke dalam bahasa anak.
- Pada tingkat-tingkat permulaan kelihatannya metode ini terasa
sulit diterapkan, karena siswa belum memiliki bahan (perbendaharaan kata)
yang sudah dimengerti
- Meskipun pada dasarnya metode ini guru tidak boleh menggunakan
bahasa sehari-hari dalam menyampaikan bahan pelajaran bahasa asing tapi
pada kenyataannya tidak selalu konsisten demikian, guru terpaksa misalnya
menterjemahkan kata-kata sulit bahasa asing itu ke dalam bahasa anak
didik.
Metode ini sebenarnya tepat sekali digunakan pada tingkat permulaan
maupun atas karena si siswa merasa telah memiliki bahan untuk
bercakap/cercicara dan tentu saja agar siswa betul-betul merasa tertantang
untuk bercakap/berkomunikasi; maka sanksi-sanksi dapat ditetapkan bagi mereka
yang menggunakan bahasa sehari-hari.