Senin, 24 Juni 2013

LEARNING STRATEGI TRAINING





LEARNING  STRATEGI  TRAINING

The  Goal  Of  Teacher
Ø  To make language learners aware of their something and teach them stategies.
The  Roles  Of  Teacher

Ø  The teacher models the use of the strategy using a think aloud demonstration.
The Characteristics Of  Teaching.

Ø  Discovering effective ways of learning.
The Tehniques
·         Through modeling
·         Asking questions
·         Guessing games

Community language learning


Community language learning
Community language learning (CLL) tumbuh dari suatu ide untuk menrapkan konsep psikoterapi dalam pengajaran bahasa. Dalam eksperimen yang dimulai tahun 1957, Charles A. Curran menerapkan konsep psikoterapi dalam bentuk konseling.

1. Prinsip Dasar CCL
Karena latar belakang pendidikan formal Curren adalah psikoterapi, dia mempararelkan konsep pengajaran bahasa sebagai personal antara seorang ahli ilmu iwa de ngan seorang pasien. Hal ini tercermin dari istilah yang dipakai “client” sebutan untuk para counselor (mahasiswa/guru). Anggapan ini didasrkan bahwa pada saat seorang terjun dalam dunia atau arena yang batru seperti proses belajar-mengajar bahasa dia dikodratidengan berbagai cirri anusia sebagaimana manusia pada umumnya. Dalam lingkungan yang balru dimana dia merasa asing, dia di hinggapi oleh rasa taka man (insecurity), rasa keterancaman (threat), rasa ketidakmenentuan (anxiety), konflik dan berbagai perasaan lain yang secara tak tersadari menghalang-halangi dia untuk maju.
Landasan dasar dalam CCL, berbeda jauh dari konsep diatas, tugas utama seorang konselor adalah untukmenghilangkan, atau paling tidak mengurang segala persaan negative para klientnya. Seorang konselor dituntut untuk memiliki s,ikap yang fasilitatif, baik dalam menularka pengetahuannya dan para klien maju dalam satu tahap demi tahap.
Dalam kaitannya dengan dengan keadaan psikologi para siswa. Curran mengajukan enam konsep yang diperlukan untuk menumbuhkan “learning”. Enam konsep ini dicakup dalam satu singkatan yaitu, SARD:
- Security (rasa aman)
- Attention- aggression (perhatian –peran aktif siswa)
- Retention-reflection, dan (refleksi/intropeksi atau tes)
- Discrimination.(penjelasan).

2. Tahap Penguasaan
Tahap penguasaan dibagi menjadi lima bagian :
1. Embryonic stage (madasen di celce-murcia & Mcintosh, 1978:35), adalah tahap dimana ketergantungan siswa pada gurunya adalah 100 atau mendekati 100%. Pada tahap ini rasa ketidak menetuan siswa menghalang-halangi dia untuk memakai bahasa asing terutama di depan gurunya dan orang-orang lain yang dia tidak kenal. Tugas guru adalah untuk menghilangkan atau menguarangi perasaaan seperti ini dengan memberikan bimbingan dan penyuluhan yang layak. Siswa diminta supaya aktifitas yang menjadi minat mereka untuk menyebutkannya dan melakukannya. Kemudian diminta untuk merefleksikan.
2. Self-Assertion Stage, tahap dimana siswa telah mendapat dukungan moral dari rekan senasibnya taupun dari guru mereka. Dan mereka telah mencoba untuk menemukan jati diri mereka sebagai penutur bahasa asing. Pada tahap ini tentu saja bahasa yang mereka gunakan barulah dalam bentuk yang sangat sederhana yang oleh slingker disebut interlanguage, serta ungkapan-ungkpan yang mereka gunakan masih dalam bntuk elementary.
3. Birth Stage, siswa secara bertahap mulai mengurangi pemakaina bahasa ibunya. Dia mulai terbiasa memkai bahasa kedua. Pada tahap ini guru atau konselor harus bertindak bijaksana dan memperhatika segala aspek yang timbul pada tahap ini, dan harus mampu mengatasi lproblem yang dihadapi oleh siswa dengan pendekatan psikologi.
4. Pada tahap ini, siswa tidak lagi banyak diam pada waktu proses embelajaran berlangsung, mereka sudah harus aktif berbicara.
5. Pada tahap terkahir adalah “independent Stage”, tahap dimana siswa telah menguasai semua bahan yang akan dibahas, dan siswa sudah bisa memperluas bahasanya dan memelajalri ula aspek-aspek social dan budaya ada penutur asli.
Erkembangan tahap demi tahap digambarkanoleh Curren dalam table berikut. Diagram Venn



3. Teknik Pelaksanaan Pengajaran

Karena dalanm CCL hungan antara guru dan siswa adalah hubungan terapeutik antara seorang klien dengan konselornya, maka bntuk kelas dan proses belajar-mengajar pun berbeda dengan kelas dan cara yang konvensioanl. Dalam CCl tiap kelas terdiri dari enam sampai 12 ,siswa, dan tiap siswa mempnyani seorang konselor. Pengaturan meja dankursi dibuat sedemikian rupa sehingga berbentuksemacam lingkaran. Konselor berada dibelakang klien/siswa, dan dapat pula dilakukan dengan pengaturan yang lain. Dalam CCL tidak digunakan satu tesk apapun, guru dan siswa berkolaborasi dan bebas menetuka materi apa yang akan dibahas.


4. Hasil Yang dicapai

Laporan yang didapat dari para peneliti dengan menggunakan metode ini adalah sangat memuaskan, dan paling tidak memberikan harapan yang cerah di masa depan. Eksperimen-eksperimen telah dilakukan menunjukkan hasil yang bagus.

WHOLE LANGUAGE


 

WHOLE LANGUAGE

What is the “Whole Language” Approach to Teaching Reading?


In the simplest terms, the “whole language approach” is a method of teaching children to read by recognizing words as whole pieces of language. Proponents of the whole language philosophy believe that language should not be broken down into letters and combinations of letters and “decoded.” Instead, they believe that language is a complete system of making meaning, with words functioning in relation to each other in context.

Constructivist Theory

The philosophy of whole language is complex and draws from education, linguistics, psychology, sociology, and anthropology. Whole language is a constructivist approach to education; constructivist teachers emphasize that students create (construct) their own knowledge from what they encounter. Using a holistic approach to teaching, constructivist teachers do not believe that students learn effectively by analyzing small chunks of a system, such as learning the letters of the alphabet in order to learn language. Constructivist instructors see learning as a cognitive experience unique to each learner’s own perspective and prior knowledge, which forms the framework for new knowledge.

Making Meaning of Text

The important thing for parents of elementary students to know is that whole language reading instruction focuses on helping children to “make meaning” of what they read and to express meaning in what they write. Some important aspects of the whole language philosophy include an emphasis on high quality literature, a focus on cultural diversity, and integration of literacy instruction across the subject areas. Whole language reading instruction creates many opportunities for children to read, either independently, with other children in small guided reading groups, and being read aloud to by the teacher.

The Role of Writing

Whole language teachers believe that children learn to read by writing, and vice versa. They encourage children to read and write for “real purposes,” with nonfiction texts and interpretation of what they read forming much of the basis of their assignments. The whole language approach to reading also stresses the love of literature and the use of engaging texts to help children develop that love. Teachers who use this approach exclusively do not place heavy emphasis in the early grades on spelling and grammar, which can make some parents uncomfortable. The whole language philosophy emphasizes children’s efforts to make meaning and seek meaning in language; therefore, correcting errors places the focus on technical correctness, which is not where whole language teachers believe it should be. The effective whole language teacher “hears and sees through” the child’s errors, using the information gained for formative assessment, then creates experiences that help the child to acquire the correct structure and form.

Cons of the Whole Language Approach

Aside from overlooking spelling and technical mistakes, the whole language approach can also present problems for students with reading difficulties. Students with dyslexia and other language processing disorders need explicit instruction in phonemic awareness, phonics, and decoding in order to improve their reading skills. With the high prevelance of processing disorders (15-20% of all students), many reformers believe explicit and systematic phonics instruction should be used to teach every student how to read - in order to prevent these students from falling behind. The whole language approach works for many students, but explicit and systematic phonics instruction works for students of all levels (and greatly decreases spelling and pronunciation errors).
 
What Does the Research Say?

Because of disagreements over the years about which type of reading instruction is best, phonics or whole language, the National Reading Panel began a study in 1997 to settle the debate. In 2000, the Panel resleased its findings, stating that there are five essential components that must be taught in an effective reading program: phonemic awareness, phonics, reading fluency, vocabulary development, and reading comprehension.1

Self-Directed Learning


Self-Directed Learning

What is Self-Directed Learning?

Self-directed learning is not a new concept. In fact, much has been written about it. Unfortunately, however, it is a notion that has a variety of interpretations and applications in the corporate training arena. Typical, narrow interpretations involve simply giving learners some sort of choice in their learning. For example, allowing learners to select one or more courses from a curriculum, or, in cases of structured on-the-job training, allowing employees to choose what pre-designed modules (e.g., a video tape, workbook, special reading, etc.) to complete. In terms of e-learning, the fact that learners can determine which modules or scenarios to review is also frequently touted as self-directed learning.The fact that the learner has a choice and makes a decision to select this or that module does not constitute true self-directed learning.

This interpretation is too limited. Self-directed learning is much more. Using the analogy of taking a trip, the narrow interpretation of SDL is equivalent to selecting where to go, i.e., the destination. The essence of the notion of self-directed learning advocated here, however, is broader, more fundamental. It is about the learner deciding not just where to take a trip but how they will go (both the means of transportation as well as route), when they will leave, how they will get there and how long they will stay.

Essentially, the notion of SDL advocated here reflects Malcolm Knowles definition of SDL:
“In its broadest meaning, ’self-directed learning’ describes a process by which individuals take the initiative, with our without the assistance of others, in diagnosing their learning needs, formulating learning goals, identify human and material resources for learning, choosing and implement appropriate learning strategies, and evaluating learning outcomes.” (Knowles, 1975, p. 18)
Of primary concern in this definition of SDL is the fact the learner takes 1) the initiative to pursue a learning experience, and 2) the responsibility for completing their learning. Once the initiative is taken, the learner assumes complete responsibility and accountability for defining the learning experience and following it through to its conclusion. This does not preclude input from others, but the final decision is the learner’s. Self-direction does not mean the learner learns alone or in isolation. While, that may be the case in any given learning situation, the critical factor here, again, is the fact the learner is driving the total learning experience, beginning with recognizing a need to learn.



Direct Method


Pengertian Direct Method ( Metode Langsung) atau pemahaman dari Direct Method yaitu berasal dari kata Direct yang artinya langsung. Direct method atau model langsung yaitu suatu cara mengajikan materi pelajaran bahasa asing di mana guru langsung menggunakan bahasa asing tersebut sebagai bahasa pengantar, dan tanpa menggunakan bahasa anak didik sedikit pun dalam mengajar. Jika ada suatu kata-kata yang sulit dimengerti oleh anak didik, maka guru dapat mengartikan dengan menggunakan alat peraga, mendemontstrasikan, menggambarkan dan lain-lain.

Metode ini berpijak dari pemahaman bahwa pengajaran bahasa asing tidak sama halnya dengan mengajar ilmu pasti alam. Jika mengajar ilmu pasti, siswa dituntut agar dapat menghafal rumus-rumus tertentu, berpikir, dan mengingat, maka dalam pengajaran bahasa, siswa/anak didik dilatih praktek langsunng mengucapkan kata-kata atau kalimat-kalimat tertentu. Sekalipun kata-kata atau kalimat tersebut mula-mula masih asing dan tidak dipahami anak didik, namun sedikit demi sedikit kata-kata dan kalimat itu akan dapat diucapkan dan dapat pula mengartikannya.

Demikian halnya kalau kita perhatikan seorang ibu mengajarkan basah kepada anak-anaknya langsung dengan mengajarinya, menuntunnya mengucapkan kata per kata, kalimat per kalimat dan anaknya menurutinya meskipun masih terihat lucu. Misalnya ibunya mengajar “Ayah” maka anak tersebut menyebut “Aah” dan seterusnya. Namun lama kelamaan si anak mengenali kata-kata itu dan akhirnya ia mengerti pula maksudnya
Pada prinsipnya metode langsung (direct method) ini sangat utama dalam mengajar bahasa asing, karena melalui metode ini siswa dapat langsung melatih kemahiran lidah tanpa menggunakan bahasa ibu (bahasa lingkungannya). Meskipun pada mulanya terlihat sulit anak didik untuk menuirukannya, tapi adalah menarik bagi anak didik.
Ciri-ciri metode ini adalah :
  1. Materi pelajaran pertama-tama diberikan kata demi kata, kemudian struktur kalimat
  2. Gramatika diajarkan hanya bersifat sambil lalu, dan siswa tidak dituntut menghafal rumus-rumus gramatika, tapi yang utam adalah siswa mampu mengucapkan bahasa secara baik
  3. Dalam proses pengajaran senantiasa menggunakan alat bantu (alat peraga) baik berupa alat peraga langsung, tidak langsung (bnda tiruan) maupun peragaan melalui simbol-simbol atau gerakan-gerakan tertentu
  4. Setelah masuk kelas, siswa atau anak didik benar-benar dikondisikan untuk menerima dan bercakap-cakap dalam bahasa asing, dan dilarang menggunakan bahasa lain.
Kebaikan metode langsung (Direct)
Metode langsung (direct) dilihat dari segi efektivitasnya memiliki keunggulan antara lain :
  1. Siswa termotivasi untuk dapat menyebutkan dan mengerti kata-kata kalimat dalam bahasa asing yang diajarkan oleh gurunya, apalagi guru menggunakan alat peraga dan macam-macam media yang menyenangkan
  2. Karena metode ini biasanya guru mula-mula mengajarkan kata-kata dan kalimat-kalimat sederhana yang dapat dimengerti dan diketahui oleh siswa dalam bahasa sehari-hari misalnya (pena, pensil, bangku, meja, dan lain-lain), maka siswa dapat dengan mudah menangkap simbol-simbol bahasa asing yang diajarkan oleh gurunya.
  3. Metode ini relatif banyak menggunakan berbagai macam alat peraga : apakah video, film, radio kaset, tape recorder, dan berbagaimedia/alat peraga yang dibuat sendiri, maka metode ini menarik minat siswa, karena sudah merasa senang/tertarik, maka pelajaran terasa tidak sulit
  4. Siswa memperoleh pengalaman langsung danpraktis, sekalipun mula-mula kalimat yang diucapkan itu belum dimengerti dan dipahami sepenuhnya
  5. Alat ucap / lidah siswa/anak didik menjadi terlatih dan jika menerima ucapan-ucapan yang semula sering terdengar dan terucapkan
Kekurangan-kekurangan metode langsung (Direct)
  1. Pengajaran dapat menjadi pasif, jika guru tidakdapat memotivasi siswa, bahkan mungkin sekali siswa merasa jenuh dan merasa dfongkol karena kata-kata dan kalimat yang dituturkan gurunya itu tidak pernah dapat dimengerti, karena memang guru hanya menggunakan bahasa asing tanpa diterjemahkan ke dalam bahasa anak.
  2. Pada tingkat-tingkat permulaan kelihatannya metode ini terasa sulit diterapkan, karena siswa belum memiliki bahan (perbendaharaan kata) yang sudah dimengerti
  3. Meskipun pada dasarnya metode ini guru tidak boleh menggunakan bahasa sehari-hari dalam menyampaikan bahan pelajaran bahasa asing tapi pada kenyataannya tidak selalu konsisten demikian, guru terpaksa misalnya menterjemahkan kata-kata sulit bahasa asing itu ke dalam bahasa anak didik.
Metode ini sebenarnya tepat sekali digunakan pada tingkat permulaan maupun atas karena si siswa merasa telah memiliki bahan untuk bercakap/cercicara dan tentu saja agar siswa betul-betul merasa tertantang untuk bercakap/berkomunikasi; maka sanksi-sanksi dapat ditetapkan bagi mereka yang menggunakan bahasa sehari-hari.