Selasa, 18 Juni 2013

Direct Method .


 Direct Method .
Pengertian Direct Method ( Metode Langsung) atau
pemahaman dari Direct Method yaitu berasal dari kata Direct yang artinya langsung. Direct method atau model langsung yaitu suatu cara mengajikan materi pelajaran bahasa asing di mana guru langsung menggunakan bahasa asing tersebut sebagai bahasa pengantar, dan tanpa menggunakan bahasa anak didik sedikit pun dalam mengajar. Jika ada suatu kata-kata yang sulit dimengerti oleh anak didik, maka guru dapat mengartikan dengan menggunakan alat peraga, mendemontstrasikan, menggambarkan dan lain-lain.

Metode ini berpijak dari pemahaman bahwa pengajaran bahasa asing tidak sama halnya dengan mengajar ilmu pasti alam. Jika mengajar ilmu pasti, siswa dituntut agar dapat menghafal rumus-rumus tertentu, berpikir, dan mengingat, maka dalam pengajaran bahasa, siswa/anak didik dilatih praktek langsunng mengucapkan kata-kata atau kalimat-kalimat tertentu. Sekalipun kata-kata atau kalimat tersebut mula-mula masih asing dan tidak dipahami anak didik, namun sedikit demi sedikit kata-kata dan kalimat itu akan dapat diucapkan dan dapat pula mengartikannya.

Demikian halnya kalau kita perhatikan seorang ibu mengajarkan basah kepada anak-anaknya langsung dengan mengajarinya, menuntunnya mengucapkan kata per kata, kalimat per kalimat dan anaknya menurutinya meskipun masih terihat lucu. Misalnya ibunya mengajar “Ayah” maka anak tersebut menyebut “Aah” dan seterusnya. Namun lama kelamaan si anak mengenali kata-kata itu dan akhirnya ia mengerti pula maksudnya
Pada prinsipnya metode langsung (direct method) ini sangat utama dalam mengajar bahasa asing, karena melalui metode ini siswa dapat langsung melatih kemahiran lidah tanpa menggunakan bahasa ibu (bahasa lingkungannya). Meskipun pada mulanya terlihat sulit anak didik untuk menuirukannya, tapi adalah menarik bagi anak didik.

Ciri-ciri metode ini adalah :

  1. Materi pelajaran pertama-tama diberikan kata demi kata, kemudian struktur kalimat
  2. Gramatikal diajarkan hanya bersifat sambil lalu, dan siswa tidak dituntut menghafal rumus-rumus gramatika, tapi yang utam adalah siswa mampu mengucapkan bahasa secara baik
  3. Dalam proses pengajaran senantiasa menggunakan alat bantu (alat peraga) baik berupa alat peraga langsung, tidak langsung (bnda tiruan) maupun peragaan melalui simbol-simbol atau gerakan-gerakan tertentu
  4. Setelah masuk kelas, siswa atau anak didik benar-benar dikondisikan untuk menerima dan bercakap-cakap dalam bahasa asing, dan dilarang menggunakan bahasa lain.
Kelebihan  metode langsung (Direct)
Metode langsung (direct) dilihat dari segi efektivitasnya memiliki keunggulan antara lain :
  1. Siswa termotivasi untuk dapat menyebutkan dan mengerti kata-kata kalimat dalam bahasa asing yang diajarkan oleh gurunya, apalagi guru menggunakan alat peraga dan macam-macam media yang menyenangkan
  2. Karena metode ini biasanya guru mula-mula mengajarkan kata-kata dan kalimat-kalimat sederhana yang dapat dimengerti dan diketahui oleh siswa dalam bahasa sehari-hari misalnya (pena, pensil, bangku, meja, dan lain-lain), maka siswa dapat dengan mudah menangkap simbol-simbol bahasa asing yang diajarkan oleh gurunya.
  3. Metode ini relatif banyak menggunakan berbagai macam alat peraga : apakah video, film, radio kaset, tape recorder, dan berbagaimedia/alat peraga yang dibuat sendiri, maka metode ini menarik minat siswa, karena sudah merasa senang/tertarik, maka pelajaran terasa tidak sulit
  4. Siswa memperoleh pengalaman langsung danpraktis, sekalipun mula-mula kalimat yang diucapkan itu belum dimengerti dan dipahami sepenuhnya
  5. Alat ucap / lidah siswa/anak didik menjadi terlatih dan jika menerima ucapan-ucapan yang semula sering terdengar dan terucapkan
Kekurangan metode langsung (Direct)
  1. Pengajaran dapat menjadi pasif, jika guru tidakdapat memotivasi siswa, bahkan mungkin sekali siswa merasa jenuh dan merasa dfongkol karena kata-kata dan kalimat yang dituturkan gurunya itu tidak pernah dapat dimengerti, karena memang guru hanya menggunakan bahasa asing tanpa diterjemahkan ke dalam bahasa anak.
  2. Pada tingkat-tingkat permulaan kelihatannya metode ini terasa sulit diterapkan, karena siswa belum memiliki bahan (perbendaharaan kata) yang sudah dimengerti
  3. Meskipun pada dasarnya metode ini guru tidak boleh menggunakan bahasa sehari-hari dalam menyampaikan bahan pelajaran bahasa asing tapi pada kenyataannya tidak selalu konsisten demikian, guru terpaksa misalnya menterjemahkan kata-kata sulit bahasa asing itu ke dalam bahasa anak didik.
Metode ini sebenarnya tepat sekali digunakan pada tingkat permulaan maupun atas karena si siswa merasa telah memiliki bahan untuk bercakap/cercicara dan tentu saja agar siswa betul-betul merasa tertantang untuk bercakap/berkomunikasi; maka sanksi-sanksi dapat ditetapkan bagi mereka yang menggunakan bahasa sehari-hari.

Blended Learning Method.


Blended Learning Method.
Blended Learning Blended learning terdiri dari kata blended (kombinasi/ campuran) dan learning (belajar). Istilah lain yang sering digunakan adalah hybrid course (hybrid = campuran/kombinasi, course = mata kuliah). Makna asli sekaligus yang paling umum blended learning mengacu pada belajar yang mengkombinasi atau mencampur antara pembelajaran tatap muka (face to face = f2f) dan pembelajaran berbasis komputer (online dan offline). Thorne (2003) menggambarkan blended learning sebagai "It represents an opportunity to integrate the innovative and technological advances offered by online learning with the interaction and participation offered in the best of traditional learning.
Pembelajaran berbasis blended learning merupakan pilihan terbaik untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan daya tarik yang lebih besar dalam berinteraksi antar manusia dalam lingkungan belajar yang beragam. Belajar blended menawarkan kesempatan belajar untuk menjadi baik secara bersama-sama dan terpisah, demikian pula pada waktu yang sama maupun berbeda. Sebuah komunitas belajar dapat dilakukan oleh pelajar dan pengajar yang dapat berinteraksi setiap saat dan di mana saja karena memanfaatkan yang diperoleh komputer maupun perangkat lain (iPhone) sebagai fasilitasi belajar. Blended learning memberikan fasilitasi belajar yang sangat sensitif terhadap segala perbedaan karakteristik pskiologis.

Minggu, 02 Juni 2013

The Audio-lingual method.

 

 The Audio-lingual method.


The audio-lingual method was widely used in the United States and other countriesin the 1950's and 1960's. It is still used in some programs today.


Theory of language

The Structural view of language is the view behind the audio-lingual method. Particular emphasis was laid on mastering the building blocks of language and learning the rules for combining them.

Theory of learning

Behaviorism, including the following principles:

  • language learning is habit-formation
  • mistakes are bad and should be avoided, as they make bad habits
  • language skills are learned more effectively if they are presented orally first, then in written form
  • analogy is a better foundation for language learning than analysis
  • the meanings of words can be learned only in a linguistic and cultural context

Design



Here are some of the objectives of the audio-lingual method:

  • accurate pronunciation and grammar
  • ability to respond quickly and accurately in speech situations
  • knowledge of sufficient vocabulary to use with grammar patterns.



Types of learning techniques and activities

  • dialogues
  • drills

Procedure

Here is a typical procedure in an audio-lingual course

  • Students hear a model dialogue
  • Students repeat each line of the dialogue
  • Certain key words or phrases may be changed in the dialogue
  • Key structures from thedialogue serveas the basis for pattern drills of different kinds.
  • The students practice substitutions in the pattern drills.

Sabtu, 01 Juni 2013

Multiple Intelligences





Multiple Intelligences 

Multiple Intelligences adalah teori kecerdasan ganda yang dikemukakan oleh Prof. Howard Gardner pada tahun 1983 . Dalam teori ini menurut beliau ada Sembilan jenis kecerdasan, adapun kesembilan jenis kecerdasan tersebut adalah kecerdasan linguistik, logika matematika, visual, kinestetik, musical, interpersonal, intrapersonal, naturalis, dan eksistensial.
a. Linguistic - using words effectively. These learners have highly developed auditory skills and often think in words. They like reading, playing word games, making up poetry or stories. They can be taught by encouraging them to say and see words, read books together. Tools include computers, games, multimedia, books, tape recorders, and lecture.

b. Logical -Mathematical - reasoning, calculating. Think conceptually, abstractly and are able to see and explore patterns and relationships. They like to experiment, solve puzzles, ask cosmic questions. They can be taught through logic games, investigations, mysteries. They need to learn and form concepts before they can deal with details.
c. Visual-Spatial - think in terms of physical space, as do architects and sailors. Very aware of their environments. They like to draw, do jigsaw puzzles, read maps, daydream. They can be taught through drawings, verbal and physical imagery. Tools include models, graphics, charts, photographs, drawings, 3-D modeling, video, videoconferencing, television, multimedia, texts with pictures/charts/graphs.

            d. Bodily-kinesthetic - use the body effectively, like a dancer or a surgeon. Keen sense of body awareness. They like movement, making things, touching. They communicate well through body language and be taught through physical activity, hands-on learning, acting out, role playing. Tools include equipment and real objects.

          e. Musical - show sensitivity to rhythm and sound. They love music, but they are also sensitive to sounds in their environments. They may study better with music in the background. They can be taught by turning lessons into lyrics, speaking rhythmically, tapping out time. Tools include musical instruments, music, radio, stereo, CD-ROM, multimedia.

           f. Interpersonal - understanding, interacting with others. These students learn through interaction. They have many friends, empathy for others, street smarts. They can be taught through group activities, seminars, dialogues. Tools include the telephone, audio conferencing, time and atten  tion from the instructor, video conferencing, writing, computer conferencing, E-mail.

         g. Intrapersonal - understanding one's own interests, goals. These learners tend to shy away from others. They're in tune with their inner feelings; they have wisdom, intuition and motivation, as well as a strong will, confidence and opinions. They can be taught through independent study and introspection. Tools include books, creative materials, diaries, privacy and time. They are the most independent of the learners.

           h. Naturalis – kecerdasan naturalis adalah kemampuan menggali berbagai jenis flora, fauna dan fenomena alam lainnya. Fungsi kecerdasan naturalis akan terlihat mencolok mereka mengamati tanaman, hewan, dan benda-benda alam disekitarnya.
           i. Spiritual – adalah kemampuan untuk merasakan keberagamaan seseorang. Perlu ditegaskan bahwa merasa agama tidak hanya sekedar tahu agama, Oleh karena itu orang yang mendalam ilmu agama dan pengetahuan ilmu agamanya belum tentu mempunyai kecerdasan spiritual, sebab kecerdasan ini hanya diperolaeh oleh dengan merasakan keberagamaan.

Grammar-translation Method (GTM)





Grammar-translation Method (GTM) bukanlah metode pengajaran bahasa yang baru. Mungkin metode ini mempunyai nama yang berbeda-beda tetapi digunakan oleh guru bahasa bertahun-tahun. Pada awalnya, metode ini dinamakan Classical Method karena metode ini pertama kali digunakan dalam mengajarkan bahasa-bahasa klasik, Latin dan Greek (Chastain 1988). Sekarang, metode ini digunakan sebagai tujuan untuk menolong siswa membaca dan mengapersiasi literatur bahasa asing. Metode ini juga diharapkan, melalui pembelajaran grammar dari bahasa asing, siswa menjadi familiar dengan grammar bahasanya sendiri dan kefamiliaran ini akan menolongnya untuk berbicara dan menulis bahasanya sendiri dengan benar. Akhirnya, metode pengajaran ini akan membuat siswa tumbuh secara intelektual; metode pengajaran ini juga akan membuat siswa mungkin tidak pernah menggunakan bahasa yang asing yang dipelajari, tetapi latihan-latihan di dalam metode ini akan sangat berguna kedepannya.

                               


Tujuan Penggunaan GTM
Menurut guru yang mengunakan Grammar-tanslation Method, tujuan fundamental dari pengajaran sebuah bahasa asing adalah untuk bisa membaca literatur tertulis dari bahasa tersebut. Untuk melakukannya, siswa membutuhkan belajar tentang peraturan grammar dan vocabulary atau kosakata dari bahasa asing tersebut.

Peran Guru dan Siswa Dalam GTM
Peran pada metode ini sangat tradisional. Peran guru adalah sebagai pemegang kekuasaan di kelas. Dan peran siswa hanya menuruti apa yang guru ajarkan, siswa melakukan apa yang yang guru katakan, siswa belajar apa yang pengajar tahu.

Karakteristik Proses Pembelajaran Dalam GTM
Siswa disuruh untuk mengartikan teks dari satu bahasa ke bahasa yang lain. Seringnya apa yang mereka artikan adalah bacaan-bacaan dari bahasa asing yang dipelajari tentang beberapa aspek kebudayaan dari komunitas atau pengguna asli bahasa asing tersebut. Pelajar atau siswa belajar grammar secara deduktif, yaitu pengajar memberi peraturan-peraturan grammar dan contohnya, kemudian siswa disuruh untuk menghafalnya, dan kemudian disuruh untuk menggunakan peraturan tersebut ke contoh yang lain. Siswa juga belajar paradigma-paradigma dalam grammar seperti noun, verb, adverb, dan lain sebagainya. Siswa menghafal padanan kata dari bahasa aslinya sendiri dengan kosakata dari bahasa asing yang dipelajari.
Language Skill Dalam GTM
Vocabulary dan grammar sangat ditekankan sekali dalam metode ini. Reading dan writing adalah primary skill atau kemampuan utama yang siswa lakukan. Terdapat sedikit perhatian yang tertuju pada speaking dan listening, begitu juga terhadap pronunciation.

Evaluasi Dalam GTM
Test tertulis sering digunakan untuk mengevaluasi siswa dengan mengartikan bahasa asing yang dipelajari ke bahasa aslinya sendiri atau sebaliknya. Pertanyaan yang menyangkut peraturan grammar dair bahasa asing yang dipelajari atau bahasa asli siswa juga sering dijumpai.